“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al Hajj : 73)

Jumat, 17 Desember 2010

Syaikh Ihsan Ilahi Dzhahir -rahimahullah-, Ahli bid'ah menghargai kepalanya 200 ribu dollar


Pendahuluan

Beliau adalah Ihsan Ilahi Dzhahir bin Nizhamuddin, lahir pada tahun 1940 di kota Siyalkut, sebuah kota tua di Pakistan, sebelah utara kota provinsi Punjab. Kota ini terkenal dengan kelahiran tokoh-tokoh dan ulama. dan lingkungan yang sangat subur dengan ulama, tentu sangat kondusif bagi perkembangan seorang anak. Demikian pula dengan keberadaan Syaikh di sana.

Keluarga besarnya sangat populer dengan perniagaan berbagai macam kain. Ketinggian tingkat keilmuan dan semangat juang untuk membela agama, serta kelimpahan harta-benda juga menjadi penghias yang melekat pada keluarga besarnya.

Ayahnya seorang pedagang kain yang terkenal dengan amanahnya, dan juga termasuk orang yang mencintai ulama dan giat mendakwahkan aqidah salaf dengan menyibukkan diri berceramah di beberapa masjid. Ia telah memilihkan jalan bagi anak-anaknya agar menjadi para penyeru di jalan Allah.Oleh karena itu, ia sangat memperhatikan proses pendidikan anak-anaknya dengan baik.

Sang ayah sudah semenjak dini meminta Ihsan agar menghabiskan waktunya untuk senang mencari ilmu agama, jangan memikirkan mata pencaharian terlebih dahulu. Bahkan, semua anggota keluarganya pun memiliki pemikiran yang sama, yaitu mendukung Ihsan agar senantiasa sungguh-sungguh mencurahkan thalabul ilmi dan berdakwah di jalan Allah Subhaanahu wa Ta'ala, meskipun yang menjadi taruhannya adalah harta. Segala upaya dikerahkan ayahnya agar sang anak dapat belajar dengan nyaman. Demikian pula dengan ibunya.

Kecerdasan Syaikh Ihsan -rahimahullah- dan Perjalanan Keilmuannya

Semenjak kecil, Syaikh Ihsan sudah terkenal dengan kecerdasannya. Demikian pula dengan kecintaannya pada ilmu. Para Ulama semakin mendukungnya untuk dapat mendulang ilmu yang banyak.

Semenjak usia 9 tahun, beliau sudah menghafalkan al Qur'an dengan baik. Ditempatnya belajar, yakni di Madrasah asy Syihabiyah, beliau menuntaskan pendidikan dasar dan menengahnya. Dan para dewan guru sangat mengagumi beliau. Setelah itu, beliau memperdalam ilmu-ilmu agama di Jami'ah Muhammadiyah, salah satu universitas salafiyyah terbesar di Pakistan. Beliau menyelesaikan studinya di universitas itu pada tahun 1961. Setelah itu beliau berguru pada seorang pakar hadits bernama Syaikh Muhammad al Jandalawi.Kemudian pada tahun 1963, ia berkesempatan untuk menuntut ilmu di kota Madinah al Munawwarah, di Jami'ah Islamiyah. Di sanalah ulama-ulama besar salafi berhasil ditemuinya untuk menjadi rujukan ilmiyah. Padah tahun 1967, ia menyelesaikan kuliahnya di fakultas Syari'ah Islam dengan predikat summa cumlaude, menenpati rangking pertama untuk angkatan ketiga. Pihak kampus akhirnya menawari beliau untuk menjadi staf pengajar, namun ia menjawab, "Negeriku lebih membutuhkanku."

Guru-Guru Beliau

1. Syaikh Muhammad al Jandalawi
2. al Muhaddits Syaikh Ahmad bin Isma'il
3. Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz
4. Syaikh al Albani
5. Syaikh 'Abdul Muhsin al 'Abbad 
6. Syaikh Muhammad Amin asy Syinqithi
7. Syaikh 'Athiyyah Salim
8. Syaikh Hammad al Anshari
9. Syaikh Abu Bakr Jabir al Jazairi

Perjuangan Membela Agama Allah Ta'ala dan Menjunjung Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam

Sesampai di kampung halaman, beliau memulai untuk berdakwah. Ia mulai mencermati bahwa masyarakatnya kurang dalam menghargai ilmu agama. Dan menurut mereka, orang yang disebut ulama tidak ada apa-apanya dalam kemampuan untuk meresapi ilmu yang mereka sebut dengan "ilmu-ilmu modern".

Syaikh Ihsan ingin membalikkan asumsi mereka. Dengan idzin dari Allah 'Azza wa Jalla, akhirnya beliau dapat mengantongi berbagai gelar master pada ilmu-ilmu bahasa Arab, bahasa Persia, bahasa Urdu, dan bahasa Inggris. Begitu pula master dalam bidang hukum dan politik.

Sebenarnya, dari kitab-kitab tulisan beliau, kita dapat melihat dengan jelas bagaimana komitmen beliau dengan manhaj salaf. namun ada baiknya bila selintas kita melihat lewat ucapannya sendiri :

"Tidak ada barometer untuk mengetahui kejujuran dari kedustaan, kebenaran dari kebatilan, kebaikan dari kejelekan, kebaikan dari keburukan, kecuali hanya al Qur'an dan as Sunnah. Setiap pendapat yang bertentangan dengan firman Allah dan setiap tindakan yang berlawanan dengan praktek Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka harus ditinggalkan lagi tertolak, tidak perlu diperhatikan atau dilirik, baik muncul dari tokoh besar, orang kecil, orang yang bertakwa ataupun manusia celaka. Sebab, kaum Mukminin tidak terikat dengan individu dan pemikiran mereka. Justru mereka itu diperintahkan untuk mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah." (Dirasaat fit Tashawwuf hlm. 12)

Demikian pula bila kita melihat jejak perjalanan hidup beliau, kita akan dapati beliau adalah orang yang tegas dalam membela Sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan merasa benci terhadap musuh-musuh sunnah dan ahlul bid'ah. Hal ini nampak pada karangan-karangan beliau yang membantah dan menyerang berbagai macam aliran sempalan seperti syi'ah rafidhah, isma'iliyah, baha'iyah, qadiyaniyah, dan tashawwuf. Penentangan beliau terhadap musuh-musuh sunnah inilah yang membuat mereka benci terhadap beliau dan berusaha untuk mencelakakan beliau. Namun beliau tidak gentar, justru semakin bersemangat dan bertambah keikhlasannya, tekadnya makin berkobar untuk memerangi musuh-musuh agama dengan tujuan mengaharap Wajah Allah Yang Mulia semata. Hingga beliau senantiasa menyibukkan diri dengan dakwah, sampai akhirnya Allah menentukan takdir ajalnya.

Wafat Beliau

Hari itu, Syaikh mendatangi sebuah kajian ilmiyah para 'Ulama yang diselenggarakan oleh Jum'iyyah Ahlul Hadits di Lahore, pada tangal 23-7-1407 H. Kajian itu dihadiri oleh 2000 peserta. Malam sudah larut, tepatnya pukul 23.00. pada saat itu Syaikh maju untuk mengutarakan ceramahnya di atas podium. Setelah 22 menit berceramah, tiba-tiba sebuah bom meledak dari bawah panggung. Sembilan orang tewas seketika. 114 orang cedera, baik berat maupun ringan. Beberapa gedung dan rumah yang berdekatan dengan tempat kejadian runtuh. Sementara Syaikh terlempar sekitar 20 meter dari tempatnya. bagian tubuh kiri beliau mengalami luka parah. Namun beliau masih sadar. Bahkan maish terus berusaha meneruskan pembicaraannya -dengan idzin Allah-. Beliau akhirnya dibawa k rumah sakit pusat di Lahore. Akhirnya dengan rekomendasi Syaikh Ibnu Baz kepada Khadimatul Haramain raja Fahd, pihak Saudi Arabia siap mengambil alih pengobatannya. Begitu sampai di kota Riyadh, para 'Ulama dan para pejabat negara menyambut kedatangan beliau. Beliau dirawat di rumah sakit militer. Para dokter menganjurkan agar kaki beliau diamputasi, namun beliau menolaknya. Dan pada hari senin, pukul 04.00, tangal 1 Sya'ban 1407 H, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kesedihan yang amat mendalam menyayat masyarakat kota Riyadh, Arab Saudi. Pada hari itu sekolah diliburkan, dan toko-toko ditutup. Orang-orang berdesakan menshalati jenazah beliau dengan pimpinan Syaikh Ibnu Baz. Sementara itu masyarakat di tiga kota di Pakistan, yakni Islamabad; Karachi; dan Lahore menutup tempat-tempat perniagaan mereka lantaran kesedihan mendalam atas meningalnya sang mujahid. Setelah itu, jenazah beliau diterbangkan ke kota Madinah untuk disholatkan di masjid Nabawi dan selanjutnya dimakamkan di pekuburan Baqi'. Para 'Ulama, mahasiswa, dan masyarakat kota Madinah sangat berduka cita atas meninggalnya beliau yang beliau ini adalah musuh besar kaum syi'ah rafidhah setelah Syaikh Muhibuddin al Khatib meninggal.

Sebuah kematian yang indah setelah mengisi usia dengan perjuangan dan pengorbanan demi membela agama Allah yang mulia di berbagai negara. Kegigihan beliau dalam membela sunnah dan membasmi firqah-firqah sesat melalui tulisan maupun ceramah-ceramah sangatlah jelas. Akibatnya, beliau mendapatkan intimidasi dan ancaman yang begitu banyak. Al Khumaini -la'anahullah- pernah mengelurkan maklumat yang berisi :

"Siapa saja yang dapat membawa keppala Ihsan, niscaya ia akan mendapatkan hadiah sebesar 200 ribu dollar."

Sebenarnya ancaman-ancaman tersebut telah membuat khawatir sejumlah kawan beliau yang sama-sama berjuang dalam dakwah, sehingga menasihatkan beliau agar bersikap lebih lunak. Di antaranya adalah Syaikh Shalih al Luhaidan. Namun Syaikh Ihsan justru lebih berani terhadap makar orang-orang sesat, semakin responsif terhadap kebenaran, dan semakin tegas dalam mematahkan hujjah-hujjah musuh-musuh Allah.

Syaikh Luhaidan berkata :

"Saya mempunyai hubungan yang erat dengan Ustadz Ihsan Ilahi Dzhahir dan akar-akar hubunganku semakin kokoh seiring dengan perjalanan waktu. Saya sudah seringkali mendesaknya untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak meningkatkan greget aktivitasnya agar musuh-musuhnya tidak bertambah banyak. Karena bisa jadi mereka memperdayanya dengan tipu daya setan karena setan adalah musuh yang nyata bagi manusia, atau seperti tipu daya penolong-penolong setan karena mereka ingin mewujudkan ambisi, menebar kerusakan, dan menyebarluaskan kesesatan lebih giat daripada yang lain. Namun sepengetahuanku, watak Ustadz Ihsan Ilahi Dzhahir adalah responsif kepada kebenaran, gemar menjelek-jelekkan maksud para penebar kesesatan dan kerusakan, serta mempelajari tujuan-tujuan buruk mereka. Itulah yang membuatnya tidak goyah oleh kritikan atau ajakan untuk lembut dalam memberantas kebathilan." (Kata Pengantar Syaikh Luhaidan di dalam buku Dirasaat fit Tashawwuf)

Semoga Allah merahmati Syaikh Ihsan, memberikan tempat yang mulia baginya di akhirat, dan membalas amal kebaikannya dalam menolong agama Allah dan melawan musuh-musuh agama dengan balasan yang sebaik-baiknya, serta menjadikannya termasuk orang-orang yang syahid dalam berjihad di jalan-Nya. Amin.

Dan sesungguhnya tulisan ini tidak sama sekali diperuntukkan untuk mengkultuskan beliau, atau mensucikan beliau, atau mengagung-agungkan seorang makhluk Allah. Dan kami berlindung pada Allah Subhaanahu wa ta'ala dari hal itu. Sesungguhnya tulisan ini ditulis dengan tujuan agar menjadi 'ibrah (pelajaran) yang berharga bagi setiap muslim yang mengaku cinta pada Allah dan cinta pada Rasul-Nya. Serta agar setiap muslim bisa mengambil pelajaran bahwa ketekunan dalam menuntut ilmu agama, pengamalan, dakwah, dan kesabaran sangatlah penting untuk menggapai keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'ala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tuangkan komentar anda dengan penuh akhlaqul karimah